:

Pola Pikir Stres Akademik Di Kalangan Mahasiswa

top-news
https://birumerdeka.com/public/frontend/img/post-add/add.jpg

Birumerdeka.com- Manusia di anugrahkan pikiran, penggerak dari pikiran adalah individu itu sendiri di mana hal tersebut dikatakan pola pikir, ketika pola pikir seseorang terganggu maka akan menimbulkan hal-hal yang berkaitan dengan mental, salah satunya stres akademik, stres akademik biasanya dialami oleh siswa dan mahasiswa dari sekolah maupun perguruan tinggi.


Pola pikir stres pada mahasiswa adalah fenomena yang kompleks dan multifaset, dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, mahasiswa sering kali berada di bawah tekanan yang signifikan, baik akademis maupun non akademis. Tuntutan akademis yang tinggi seperti tugas, ujian, proyek, sering kali menjadi sumber stres utama bagi siswa/i. Selain itu, tekanan untuk berprestasi, mendapatkan beasiswa, dan mempersiapkan masa depan juga berkontribusi terhadap tingginya tingkat stres di kalangan mahasiswa.


Faktor sosial dan emosional juga memainkan peran penting dalam pola pikir stres mahasiswa. Kehidupan kampus yang dinamis menuntut mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun jaringan sosial, dan mengelola hubungan interpersonal. Keseimbangan dalam menyeimbangkan kehidupan akademis dan sosial dapat meningkatkan perasaan cemas dan stres. Tak bisa dipungkiri banyak di antara mahasiswa/i, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Banyak yang mengalami stres terhadap masalah akademik salah satunya adalah, Putri mahasiswi dari Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) yang mengalami stres. Menurutnya kecemasan ini terjadi karena terlalu banyaknya pikiran negatif yang menghantui dirinya.

 " Yang bikin beban itu karena tugas banyak dan numpuk , terus berat mana waktu buat ngerjain nya singkat lagi. " Ujar putri pada Jumat 24 mei 2024.

Karna hal ini, penting bagi pelajar untuk mengatur pola pikir agar tidak stres dan kesehatan mental tetap terjaga, dikarenakan stress pada akademik bisa terjadi karna faktor pisikologis yaitu rendahnya self esteem , dan kurang rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Untuk mengatur pola pikir agar tidak stres bisa dilakukan seperti manejemen waktu, membangun dukungan sosial, dan memiliki manejemen tugas yang baik, serta mengerjakan tugas yang tepat pada waktunya agar kita tidak merasa berat dengan tugas lain yang diberikan oleh para dosen. Namun, penting untuk dicatat bahwa stres tidak selalu bersifat negatif. Dalam jumlah yang tepat, stres bisa menjadi motivator yang kuat untuk mendorong siswa mencapai tujuan mereka. Masalah muncul ketika stres menjadi berlebihan dan tidak terkendali, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Untuk mengatasi stres, mahasiswa perlu mengembangkan keterampilan manajemen stres yang efektif. Ini bisa mencakup teknik relaksasi seperti meditasi dan yoga, menjaga pola tidur yang sehat, berolahraga secara teratur, dan mengelola waktu dengan baik. Dukungan sosial dari teman, keluarga, dan layanan konseling kampus juga sangat penting dalam membantu mahasiswa mengatasi stres.

Institusi pendidikan juga memiliki peran kunci dalam mengurangi stres mahasiswa dengan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, menawarkan layanan kesehatan mental yang mudah diakses, dan mempromosikan keseimbangan antara kehidupan akademis dan pribadi. Dengan pendekatan holistik, stres mahasiswa dapat dikelola dengan lebih baik, memungkinkan mereka untuk mencapai potensi penuh mereka tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.

 

Penulis: Nyimas Thytania Dea Ramadani

https://birumerdeka.com/public/frontend/img/post-add/add.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *